REMBANG – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya ternyata telah mengenal dunia Nahdlatul Ulama (NU) sejak usia sangat belia. Lahir dan besar di lingkungan keluarga pesantren, aktivitas organisasi keagamaan itu menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil.
Dalam buku Biografi KH. Yahya Cholil Staquf: Derap Langkah dan Gagasan karya Septa Dinata (LKiS, 2022), diceritakan seluruh figur penting dalam kehidupan Gus Yahya merupakan pegiat NU. Mulai dari sang kakek KH Bisri Mustofa, ayahnya KH Cholil Staquf, hingga para pamannya.
Rumah keluarga Gus Yahya juga kerap menjadi tempat berkumpul para tokoh NU. Sejak kecil, ia terbiasa menyaksikan berbagai aktivitas organisasi dan perbincangan para kiai mengenai urusan keumatan maupun organisasi.
Pengalaman mengikuti kegiatan besar NU dimulai saat usianya baru sekitar lima tahun. Pada 1971, Gus Yahya diajak ibunya menghadiri Rapat Akbar Partai NU di Alun-alun Rembang.
Ia masih mengingat pidato kampanye yang disampaikan Ketua Umum PBNU saat itu KH Idham Chalid bersama sang kakek, KH Bisri Mustofa.
Pengalaman berikutnya terjadi pada Muktamar ke-26 NU di Semarang pada 1979. Saat itu Gus Yahya yang masih duduk di bangku sekolah dasar diajak ayahnya, KH Cholil Staquf, yang ketika itu menjabat Ketua PCNU Rembang.
Berkat kartu peserta peninjau yang diperoleh ayahnya, Gus Yahya dapat mengikuti seluruh rangkaian muktamar dari awal hingga selesai. Ia menyaksikan langsung dinamika persidangan, perbincangan para kiai, hingga pembahasan politik yang berkembang selama muktamar.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga melihat langsung sejumlah tokoh besar NU, seperti KH Bisri Samsuri, KH Kholil, hingga Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Meski hanya dapat mengamati dari kejauhan, pengalaman tersebut membekas kuat dalam ingatannya.
Menurut buku tersebut, sejak saat itu mulai tumbuh keyakinan dalam diri Gus Yahya bahwa dunia NU akan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya di masa depan.
Pada 1981, Gus Yahya kembali mengikuti agenda besar NU, yakni Musyawarah Nasional Alim Ulama di Kaliurang, Yogyakarta. Saat masih duduk di kelas III SMP, ia mendapat pengalaman tak terlupakan ketika diminta panitia memimpin lagu Indonesia Raya di hadapan para ulama sepuh, di antaranya KH Ahmad Siddiq, KH Mahrus Ali, dan KH Hamid.
Dalam buku itu diceritakan, Gus Yahya mengaku baru belakangan menyadari besarnya para tokoh yang hadir. Ia bahkan berkelakar tak akan berani maju ke depan apabila sejak awal mengetahui siapa saja ulama yang berada di hadapannya.
Perjalanan Gus Yahya bersama NU berlanjut saat menghadiri Muktamar NU 1984 di Situbondo. Muktamar tersebut mencatat sejarah dengan terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua Umum PBNU sekaligus melahirkan keputusan penting organisasi melalui gerakan “Kembali ke Khittah 1926”.
Saat itu Gus Yahya baru lulus SMA dan mulai memasuki dunia perguruan tinggi. Dari muktamar itulah ia mulai mengenal sosok Gus Dur yang disebut sebagai tokoh besar NU. Rasa penasarannya semakin besar setelah mengetahui Gus Dur merupakan sahabat dekat salah seorang pamannya ketika menempuh pendidikan di Timur Tengah.
(daf/daf)







Comments are closed.