LASEM– Festival Garam bertajuk “Memetri Kawitane Uyah” yang akan digelar Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, mendapat dukungan penuh dari anggota Komisi VII DPR RI sekaligus Ketua Umum Himpunan Penggerak Wisata Indonesia (HPWI), Eva Monalisa.
Dukungan tersebut disampaikan Eva saat berkunjung ke Pantai Dasun, Sabtu (3/10/2026). Ia menilai festival yang dijadwalkan berlangsung pada 13–18 Oktober 2026 itu memiliki potensi besar untuk mengangkat kekayaan budaya lokal sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
Menurut Eva, Festival Garam Dasun bukan sekadar perhelatan budaya, melainkan langkah strategis untuk mempromosikan pariwisata, mengembangkan ekonomi kreatif, serta memperkenalkan potensi garam rakyat kepada khalayak yang lebih luas.
Terlebih, tradisi produksi garam di Dasun menyimpan pengetahuan lokal yang perlu dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang sangat baik. Kita tidak hanya berbicara tentang pelestarian budaya, tetapi juga bagaimana potensi lokal bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Eva.
Ia berharap, melalui kolaborasi berbagai pihak, potensi garam Dasun dapat menarik investasi industri garam yang mampu mendorong hilirisasi produk, meningkatkan teknologi produksi, memperluas akses pasar, serta memperkuat infrastruktur pendukung.
“Kami berharap dengan proses kolaborasi unik ini, investasi industri garam masuk dan memberikan manfaat nyata bagi petani lokal melalui hilirisasi, peningkatan teknologi, akses pasar, dan infrastruktur pendukung,” tegasnya.
Eva menambahkan, pengembangan industri garam harus melibatkan masyarakat lokal agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh investor, tetapi juga dirasakan langsung oleh petani dan pelaku usaha di sekitar kawasan.
Menurutnya, potensi terciptanya lapangan kerja dan usaha baru akan sangat bergantung pada realisasi investasi, skala industri, pola kemitraan, kebutuhan tenaga kerja, serta sejauh mana pelaku ekonomi lokal dilibatkan dalam rantai produksi dan distribusi.
“Ketika potensi daerah Dasun tumbuh, maka akan lahir lapangan kerja baru, usaha baru, dan perputaran ekonomi masyarakat pesisir. Ini bukan sekadar soal garam, tetapi soal masa depan ekonomi daerah,” pungkasnya.
Sementara itu, Festival Garam “Memetri Kawitane Uyah” diinisiasi Komunitas Pusaka Dasun sebagai upaya menghidupkan kembali pengetahuan tradisional produksi garam dan membawanya ke ruang publik melalui pendekatan seni, budaya, edukasi, dan pariwisata.
Sejumlah agenda telah disiapkan, mulai dari produksi dan pameran lukisan garam, residensi seni, pembuatan film dokumenter, lomba menggambar dan mewarnai, bedah buku “Pranata Banyu Desa Dasun”, pembukaan pameran dan perform art, sarasehan lukisan garam, Gowes Heritage Dasun, Dialog Garam Rakyat, hingga lomba konten kreatif.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan menjadi jembatan antara warisan pengetahuan leluhur dengan peluang pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Rembang.







Comments are closed.