Menu ✖

Dark Mode

Berita

Festival Unen-Unen Rembang Hidupkan Seni Tradisi dan Buka Ruang Regenerasi Budaya

badge-check

IMG_20260926_202144 Perbesar

IMG_20260926_202144

Rembang , Suasana Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang mendadak semarak, Sabtu (26/9/2026). Ratusan warga datang bukan sekadar mencari hiburan, tetapi juga untuk menikmati beragam kesenian dan mengenal kembali kekayaan budaya yang tumbuh di Kabupaten Rembang.

Lewat Festival Unen-Unen, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dinbudpar) Kabupaten Rembang menghadirkan berbagai hiburan seni sekaligus ruang edukasi bagi generasi muda.

Sejak siang, suasana festival sudah dipenuhi anak-anak. Sekitar 100 siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan belajar mewarnai yang dikemas sebagai bagian dari edukasi budaya.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa melihat pameran seni gerak tanah yang turut mewarnai rangkaian Festival Unen-Unen.

Ketika malam tiba, panggung festival semakin ramai. Barongsai dan leang-leong tampil membuka kemeriahan, disusul Barongan Ndas Papat, Unen-Unen Rengel hingga geguritan.

Perpaduan berbagai kesenian tersebut membuat Festival Unen-Unen tidak hanya menjadi panggung bagi seni tradisional, tetapi juga menjadi ruang pertemuan berbagai komunitas seni di Rembang.

Di tengah pertunjukan, pengunjung juga disuguhi kuliner tradisional seperti kacang, telo godhok, dan kopi lelet. Warga pun bisa menikmati tontonan sambil menonton jajanan khas tanpa harus merogoh kocek untuk tiket masuk.

Plt Kepala Dinbudpar Kabupaten Rembang, Isti Choma Wati, mengatakan penggunaan nama Festival Unen-Unen sengaja dipilih untuk membangun rasa penasaran masyarakat.

“Ini kegiatan dari Dinbudpar, pementasan kesenian dan Kebudayaan di Kabupaten Rembang. Namun kita menggunakan nama Festival Unen-Unen agar masyarakat penasaran dan akhirnya mengetahui bahwa festival ini menampilkan kesenian dan Kebudayaan Rembang,” jelas Isti.

Menurut Isti, festival tersebut tidak berhenti pada pertunjukan. Ada misi yang lebih panjang, yakni mengenalkan seni budaya kepada anak-anak sekaligus menyiapkan regenerasi pelaku seni.

Generasi muda, kata dia, perlu dikenalkan dengan budaya sejak dini agar kesenian daerah tidak berhenti hanya pada generasi sekarang.

“Kita rangkul semua agar regenerasi kita lebih cepat. Di SMP kemarin ada 100 siswa dan hari ini SD juga 100 siswa,” katanya.

Festival Unen-Unen merupakan rangkaian kegiatan yang sebelumnya diawali melalui Rembangan Fest sekitar dua pekan sebelumnya.

Jika dalam Rembangan Fest pelajar SMP mendapatkan edukasi melalui pembuatan wayang dari jerami, kali ini pelajar SD diajak mengenal seni melalui kegiatan mewarnai.

Dinbudpar juga melibatkan pelajar dari sekolah negeri maupun swasta, termasuk sekolah di bawah naungan Kementerian Agama.

Tidak hanya pelajar, kelompok-kelompok seni juga diberikan ruang untuk tampil. Bahkan kesenian seperti barongsai dan leang-leong ikut ditampilkan sebagai bentuk keterbukaan ruang ekspresi bagi komunitas seni yang berkembang di Rembang.

Salah seorang pemain barongsai, Stephen, mengaku senang bisa tampil dalam festival tersebut.

Baginya, panggung seperti Festival Unen-Unen menjadi kesempatan untuk memperkenalkan barongsai kepada masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat tumbuh berdampingan dengan berbagai kesenian lainnya.

“Harapan saya barongsai semakin lama semakin maju dan rakyat semua bisa melihat barongsai tersebut. Semoga event-event seperti ini bisa lancar, terus maju dan sering digelar supaya menjadi hiburan bagi masyarakat,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Wisnu, warga Desa Kabongan Kidul. Ia menilai Festival Unen-Unen memberikan kesempatan kepada para seniman untuk tampil sekaligus membuka wawasan masyarakat terhadap kesenian yang selama ini belum banyak dikenal.

Menurutnya, salah satu yang menarik adalah pertunjukan Barongan Ndas Papat.

“Seperti tadi ada pertunjukan Barongan Ndas Papat yang tidak banyak orang tahu. Bahkan musik seperti ini bisa memberikan wawasan yang lebih bagi masyarakat Rembang,” tuturnya.

Wisnu menilai kegiatan seni budaya semacam ini memiliki manfaat ganda. Selain menjadi ruang bagi seniman untuk menampilkan karya, festival juga menjadi alternatif rekreasi bagi masyarakat.

Apalagi kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Bagi masyarakat, panggung budaya seperti Festival Unen-Unen menjadi ruang untuk berkumpul, menikmati hiburan sekaligus mengenal kembali kesenian daerah.

Sementara bagi generasi muda, festival menjadi pintu masuk untuk mengenal budaya bukan hanya dari buku atau cerita, tetapi secara langsung melalui pertunjukan dan pengalaman di lapangan.

Festival Unen-Unen pun menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berlangsung dalam suasana yang kaku. Seni bisa hadir dengan cara yang dekat dengan masyarakat, menghibur, sekaligus membuka jalan bagi lahirnya generasi baru pelaku budaya Rembang.

Comments are closed.

Baca Juga

Ngaji Bersama Gus Baha, Kapolri Bicara Amanah dan Peran Ulama untuk Bangsa

26 September 2026 - 17:59 WIB

IMG-20260926-WA0083

Firman Soebagyo Turun ke Pasar Rembang, Soroti Kepastian Anggaran dan Relokasi Pedagang

26 September 2026 - 17:17 WIB

firman-3185652068

Warung Sunan Jogo Lawang, Angkringan Jawa dengan Semangat Kemandirian Santri

26 September 2026 - 08:41 WIB

07a9c55f-45d9-4ec4-a0b7-2c38dd60b03a

Fahrudin Digeser Jadi Kepala BPBD, Mardi Ditunjuk Plt Sekda Rembang

23 September 2026 - 12:43 WIB

IMG_1645

Mediasi Dugaan Bullying SDN 2 Kedungasem, Semua Pihak Sepakat Saling Memaafkan

22 September 2026 - 12:36 WIB

77907054-740a-40d4-ade4-e52299350170
Trending di Berita