REMBANG – Musim tanam tembakau tahun 2026 membawa angin segar bagi petani di Kabupaten Rembang. Kondisi cuaca yang relatif ideal membuat prospek produksi dinilai cukup menjanjikan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengungkapkan luas tanam tembakau hingga semester I 2026 telah mencapai 7.440 hektare. Mayoritas lahan tersebut merupakan pola kemitraan dengan perusahaan rokok, menggunakan varietas Muri.
“Petani tembakau tahun ini terlihat sumringah karena cuaca sangat mendukung. Luas tanam sementara tercatat 7.440 hektare,” kata Agus, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, produktivitas tembakau kemitraan rata-rata berada di kisaran 1,5 hingga 2 ton per hektare. Sementara harga jual mencapai sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Dari perhitungan tersebut, nilai ekonomi yang berputar selama satu musim tanam diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah.
“Dalam satu siklus produksi sekitar enam bulan, perputaran uang dari sektor tembakau diperkirakan mencapai Rp455 miliar. Hampir setengah triliun rupiah,” jelasnya.
Agus menambahkan, komoditas tembakau masih menjadi salah satu penggerak utama ekonomi pedesaan di Kabupaten Rembang. Meski demikian, petani masih dihadapkan pada kendala tingginya harga pupuk, khususnya ZA dan ZK yang tidak masuk dalam skema subsidi.
Sebagai upaya meringankan beban petani, Pemkab Rembang mengalokasikan anggaran dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar Rp2,3 miliar untuk bantuan pupuk.
“Bantuan pupuk ZA sebanyak 223 ton ditargetkan mulai disalurkan pertengahan Juli ini agar bisa segera dimanfaatkan petani,” pungkasnya.
(daf/daf)







Comments are closed.