Menu

Dark Mode

Edukasi

Kisah Inspiratif Mamluatur Rahmah, Anak Buruh Terasi Rembang yang Menjadi Doktor

badge-check

Keterangan Foto: Doktor Mamluatur Rahmah (dua dari kanan) setelah selesai ujian promosi doktor melakukan foto bersama dengan keluarga. Perbesar

Keterangan Foto: Doktor Mamluatur Rahmah (dua dari kanan) setelah selesai ujian promosi doktor melakukan foto bersama dengan keluarga.

Rembang, Di balik aroma terasi yang khas dari pesisir Desa Bonang, Kabupaten Rembang, tersimpan kisah perjuangan luar biasa seorang perempuan bernama Mamluatur Rahmah. Putri seorang buruh terasi itu berhasil meraih gelar doktor di UIN Walisongo Semarang melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kementerian Agama.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya. Luluk sapaan akrabnya tumbuh dalam keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari usaha pengolahan terasi. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.

Luluk mengaku pendidikan menjadi jalan yang diyakininya mampu mengubah masa depan keluarga. Di tengah berbagai keterbatasan, ia terus berjuang hingga akhirnya berhasil menyelesaikan studi doktoralnya.

Usai menjalani sidang promosi doktor di Gedung Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Luluk mengenang sosok ibunya yang menjadi sumber motivasi terbesar selama menempuh pendidikan.

“Setiap kali saya merasa lelah menulis disertasi atau pusing dengan metodologi yang rumit, saya selalu membayangkan tangan ibu saya. Tangan yang kasar karena setiap hari menjemur dan mengolah terasi. Saya tidak punya hak untuk menyerah ketika beliau saja tidak pernah menyerah menyekolahkan saya,” ujarnya Rabu 10/6/26.

Perempuan yang juga dosen Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Raden Mas Said Surakarta itu menyebut tantangan terberat selama studi doktoral bukan berasal dari faktor akademik, melainkan dari stigma sosial yang masih memandang sebelah mata perempuan yang menempuh pendidikan tinggi.

Menurutnya , masih ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi. Namun, ia memilih menjadikan pandangan tersebut sebagai penyemangat untuk membuktikan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk berkembang dan berprestasi.

Kesempatan menempuh pendidikan doktoral itu diperolehnya melalui program Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), hasil kolaborasi Kementerian Agama dan LPDP. Beasiswa tersebut tidak hanya membantu pembiayaan pendidikan, tetapi juga membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga sederhana untuk menggapai mimpi.

Dalam disertasinya, Dirinya meneliti kecemasan kematian pada lanjut usia (lansia) di Pondok Pesantren Payaman, Magelang. Penelitian itu mendapat apresiasi dari para penguji karena dinilai mampu menghubungkan perspektif tasawuf dan psikologi dengan kondisi yang terjadi di masyarakat.

Kini, keberhasilanya menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda, khususnya mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. Ia berpesan agar anak-anak Indonesia tidak pernah membatasi mimpi hanya karena kondisi ekonomi keluarga.

“Jangan pernah membatasi mimpi kalian hanya karena melihat dompet orang tua. Selama ada peluang dan kemauan, pasti ada jalan. Belajar lebih keras dan jangan pernah melupakan doa orang tua,” pungkasnya.

Comments are closed.

Baca Juga

Geger Video Tawuran Pelajar di Rembang Viral, Polisi Kini Tengah Selidiki

25 July 2026 - 21:13 WIB

IMG_9102

Jejak Gus Yahya di Rembang: Dari Aktivis Politik Lokal ke Santri di Makkah

24 July 2026 - 19:36 WIB

IMG_9025

Bupati Harno Temui Korban Kebakaran di Tiga Kecamatan, Salurkan Bantuan hingga Rp 10 Juta

24 July 2026 - 19:32 WIB

d62a0807-9028-46c1-bf18-532510865e51

Gus Yahya Sudah Akrab dengan NU Sejak Balita, Ikut Rapat Akbar hingga Muktamar

23 July 2026 - 16:58 WIB

IMG_9026

Datang Lur Hari Terakhir Job Fair Rembang, Tersedia 3.200 Lowongan Kerja

23 July 2026 - 10:09 WIB

IMG_9014
Trending di Berita