REMBANG – Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya sempat mengasah kemampuan politik dan kepemimpinannya di Kabupaten Rembang. Namun, kiprah itu tidak berlangsung lama karena ia memilih meninggalkan politik lokal dan menetap di Makkah untuk memperdalam ilmu agama.
Dalam buku Biografi KH Yahya Cholil Staquf: Derap Langkah dan Gagasan karya Septa Dinata (LKiS, 2022), diceritakan bahwa pada era 1980-an, Nahdlatul Ulama masih memiliki kedekatan politik dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Situasi itu dipengaruhi kebijakan fusi partai pada masa Orde Baru yang menggabungkan berbagai partai Islam ke dalam PPP.
Keluarga besar Gus Yahya juga berada di lingkungan politik tersebut. Ayahnya, KH Cholil Bisri, merupakan pengurus PPP dari tingkat kabupaten hingga pusat, sekaligus pernah menjadi anggota DPRD dan DPR RI dari partai berlambang Kakbah itu.
Sepulang dari kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Gus Yahya kembali ke Rembang. Ia kemudian dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DPC PPP Rembang.
Posisi itu memberinya ruang untuk menerapkan berbagai gagasan yang diperoleh selama menempuh pendidikan. Buku tersebut menyebut, pengaruh Gus Yahya di internal partai bahkan kerap melebihi ketua DPC karena latar belakangnya sebagai putra keluarga ulama yang disegani.
Berbekal ilmu sosial yang dipelajarinya di UGM, Gus Yahya mendorong konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting. Kepengurusan PPP di berbagai tingkatan menjadi lebih aktif melalui beragam kegiatan dan program untuk memperkuat pengaruh partai di masyarakat.
Meski demikian, Gus Yahya tidak memiliki keinginan berkarier lebih jauh di politik lokal. Ia memilih mengakhiri kiprahnya di PPP Rembang.
Pada 1996, ayahnya mengajak Gus Yahya menunaikan ibadah haji. Saat itu, Gus Yahya sebenarnya telah diminta Gus Dur datang ke Jakarta, tetapi sang ayah lebih memilih membawanya ke Tanah Suci.
Usai berhaji, KH Cholil Bisri meminta putranya tetap tinggal di Makkah. Dalam buku tersebut, Gus Yahya mengenang pesan ayahnya, “Kamu tetap tinggal di sini, supaya minum air zamzam sebanyak-banyaknya.”
Permintaan itu menjadi awal perjalanan intelektual Gus Yahya di Timur Tengah. Ia menetap di Makkah selama sekitar 16 bulan untuk belajar kepada sejumlah ulama besar, sebuah fase yang kemudian memberi warna penting dalam perjalanan pemikiran dan kepemimpinannya di kemudian hari hingga saat ini.
(daf/daf)







Comments are closed.