REMBANG – Kabupaten Rembang berpeluang menjadi lokasi pengembangan kawasan industri tekstil dan garmen berskala besar. Konsorsium investor asal China tengah menjajaki pembangunan kawasan industri terpadu seluas 500 hektare di wilayah Segitiga Emas Rembang-Jape-Lasem.
Jika terealisasi, proyek tersebut akan menjadi salah satu investasi industri terbesar yang masuk ke Rembang. Kawasan itu dirancang sebagai pusat industri tekstil terintegrasi yang mampu menampung sekitar 50 perusahaan dalam satu kawasan.
Bupati Rembang Harno mengatakan minat investasi tersebut sudah disampaikan langsung oleh calon investor. Namun, proses persiapan masih terkendala ketersediaan lahan yang sesuai dengan kebutuhan proyek.
“Kemarin ada investor yang mau masuk ke Rembang. Mereka meminta lahan untuk konsorsium sekitar 500 hektare. Namun sebagian lahan yang dibutuhkan ternyata berbenturan dengan kawasan Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Nah, ini yang sedang kita carikan solusi, bagaimana nanti penggantian atau penyesuaian lahannya,” ujar Harno saat menghadiri Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 di Kudus.
Menurut Harno, lokasi yang dibidik berada di kawasan Segitiga Emas Rembang-Jape-Lasem yang selama ini telah diproyeksikan sebagai area pengembangan industri. Kawasan tersebut memiliki luas sekitar 2.000 hektare dan telah masuk dalam perencanaan tata ruang daerah.
Dari total luasan itu, sekitar 500 hektare disiapkan untuk memenuhi kebutuhan investasi yang saat ini masih dalam tahap penjajakan. Pemerintah daerah bersama pihak terkait juga masih melakukan pemetaan terhadap lahan yang berpotensi digunakan.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Rembang Dwi Martopo membenarkan adanya rencana investasi tersebut. Ia menyebut pemerintah daerah menyambut baik ketertarikan investor karena dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.
“Ada investor yang masuk. Alhamdulillah Pak Bupati sudah memberikan sinyal dukungan agar investasi di Rembang ini berjalan baik,” kata Dwi, Selasa (2/6/2026).
Dwi menjelaskan kawasan industri yang ditawarkan memiliki konsep berbeda dibanding industri garmen pada umumnya. Seluruh proses produksi akan terintegrasi dalam satu kawasan, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produk jadi siap ekspor.
“Konsepnya dari hulu sampai hilir untuk garmen. Jadi mulai produksi benang, pengolahan bahan baku, pembuatan kain, proses konveksi, sampai menjadi pakaian jadi dan kemudian diekspor. Semua proses berada dalam satu kawasan,” jelasnya.
Dengan model industri terintegrasi tersebut, proses produksi dinilai akan lebih efisien sekaligus meningkatkan daya saing produk di pasar internasional.
Selain itu, kawasan industri tersebut diproyeksikan menjadi rumah bagi sekitar 50 perusahaan yang saling terhubung dalam rantai produksi tekstil dan garmen.
“Rencananya ada sekitar 50 perusahaan yang akan bergabung dalam kawasan industri tersebut,” ungkap Dwi.
Masuknya puluhan perusahaan itu diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja. Ribuan lapangan pekerjaan baru berpotensi tercipta bagi masyarakat Rembang dan daerah sekitarnya.
Dwi menambahkan, investor tersebut masuk melalui jaringan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Bali. Setelah melakukan penjajakan di sejumlah wilayah, Rembang dinilai memiliki prospek yang menjanjikan untuk pengembangan kawasan industri skala besar.
“Investor tersebut direkomendasikan oleh teman-teman Kadin Provinsi Bali, kemudian diarahkan ke Jawa Tengah. Selama ini kami sudah beberapa kali memfasilitasi pertemuan dan komunikasi terkait rencana investasi tersebut,” ujarnya.
Meski demikian, proses investasi masih berada pada tahap awal. Saat ini Pemkab Rembang masih menunggu langkah lanjutan dari konsultan yang ditunjuk pihak investor untuk menangani proses pembebasan lahan.
“Kami masih menunggu konsultan yang menangani pembebasan lahan dari pihak konsorsium. Kalau kami yang menangani langsung tentu tidak tepat, karena itu menjadi kewenangan pihak yang ditunjuk investor,” katanya.
Menurut Dwi, tahapan yang berjalan saat ini masih sebatas identifikasi dan pemetaan lahan, termasuk status kepemilikan serta kondisi wilayah yang akan digunakan.
“Baru memetakan lahan, mana yang milik warga, mana yang milik desa, dan bagaimana kondisi lahannya. Semua masih dalam tahap awal,” pungkasnya.
Apabila seluruh tahapan dapat berjalan sesuai rencana, kawasan industri Segitiga Emas Rembang-Jape-Lasem berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Pantura Jawa Tengah sekaligus memperkuat posisi Rembang sebagai salah satu tujuan investasi industri di Indonesia.
(daf/kyv)






