LASEM – Sebuah masjid tua yang diyakini sebagai peninggalan Sunan Bonang masih berdiri di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Masjid tersebut menyimpan jejak sejarah penyebaran Islam di kawasan pesisir utara Jawa.
Masjid ini berada di tengah permukiman warga dan berjarak sekitar 50 meter dari lokasi bekas rumah atau ndalem Sunan Bonang. Hingga kini, tempat tersebut masih menjadi tujuan ziarah dan wisata religi.
Takmir Masjid Sunan Bonang, Saiful Ulum, menjelaskan bahwa sebelum menjadi masjid, lokasi tersebut dahulu merupakan tempat ibadah umat Hindu. Saat Sunan Bonang berdakwah di wilayah tersebut, tempat itu tidak langsung dijadikan masjid, melainkan lebih dulu difungsikan sebagai padepokan atau tempat berkumpul masyarakat.
“Dulu seperti padepokan atau disebut Griya Ageng, tempat warga berkumpul melakukan ritual,” ujar Saiful.
Pendekatan itu dilakukan sebagai bagian dari metode dakwah Sunan Bonang yang dikenal halus dan bertahap dalam mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat.
Dalam proses pemugaran pada era 1990-an, warga juga menemukan sejumlah fragmen arca, seperti bagian kepala dan tangan patung, serta gerabah di area sekitar masjid. Temuan tersebut kemudian kembali dipendam di kawasan masjid.

Jedor atau beduk peninggalan Sunan Bonang di Masjid Desa Bonang, Lasem. Foto: rembangsepekan.com
Juru kunci peninggalan Sunan Bonang, M Lutfi Hakim, menyebut bangunan utama masjid masih mempertahankan struktur asli peninggalan masa lalu. Bagian yang masih orisinal antara lain umpak sari dan empat tiang penyangga utama.
Bangunan utama masjid berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 9,6 x 9,6 meter. Atapnya menggunakan model khas arsitektur Jawa yang menyerupai gaya atap Masjid Agung Demak.
“Di kawasan masjid juga terdapat peninggalan lain yang diyakini berkaitan dengan Sunan Bonang, yakni sebuah sumur tua di halaman depan serta beduk yang disimpan di serambi masjid,” ungkapnya.
Selain melalui tempat ibadah, Sunan Bonang juga menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan budaya. Salah satunya melalui tembang atau gending Jawa yang berisi pesan-pesan keagamaan. Tradisi itu hingga kini masih dilestarikan masyarakat melalui kesenian Jedor Bonang.
(daf/daf)





