PANCUR – Di tengah sunyinya perbukitan Pegunungan Lasem, tersembunyi dua batu besar yang kini menyita perhatian. Batu-batu itu tergeletak di antara rimbunnya kebun jati, di Dukuh Ngasinan, Desa Warugunung, Kecamatan Pancur.
Sekilas tampak seperti bagian dari kompleks makam Tionghoa. Namun, guratan aksara Cina di permukaannya membuka kemungkinan lain, jejak prasasti kuno.
Lokasi temuan tidak mudah dijangkau. Untuk mencapainya, harus menapaki jalur menanjak di tengah hutan jati, jauh dari permukiman warga. Di titik itulah, dua batu berukuran besar berdiri tak jauh satu sama lain, hanya berjarak sekitar 20 meter.
Di sekelilingnya, terdapat dua makam bergaya Tionghoa lengkap dengan bongpai, menambah nuansa historis yang kental.
Batu pertama berukuran tinggi 144 sentimeter, panjang 190 sentimeter dan tebal 81 sentimeter. Sementara batu kedua lebih panjang, mencapai 216 sentimeter, dengan tinggi 110 sentimeter dan tebal 105 sentimeter. Permukaan keduanya dipenuhi pahatan aksara Cina yang sebagian mulai termakan usia.

Warga setempat, Jayadi (40), mengatakan batu itu sebenarnya sudah lama dikenal warga. Namun, selama ini tidak pernah dianggap sebagai benda bersejarah.
“Sudah lama, setahu saya itu waktu masih SMP kelas 2. Di bawah situ kan kebun kakek saya. Tiap panen itu main ke sini duduk di situ (batu prasasti). Belum tahu kalau itu benda sejarah. Warga tahunya ya cuma bong (kompleks pemakaman Tionghoa) gitu aja,” ujar Jayadi.
Cerita penemuan kembali batu tersebut bermula dari obrolan santai. Jayadi mengaku sempat menceritakan keberadaan batu itu kepada Danang Swastika, pemerhati sejarah Lasem, saat keduanya ngopi di kawasan tapaan Santibadhra.
“Ceritanya itu lucu, sekitar seminggunan, saya ngopi di atas, di tapaan Santibadhra. Saya cerita-cerita sama Mas Danang. Mas Danang bilang mungkin bong, saya bilang nggak mas. Terus saya ajak ke sini,” katanya.
Danang yang awalnya mengira batu itu merupakan bongpai, akhirnya datang langsung ke lokasi. Setelah melihat lebih dekat, ia justru menemukan hal berbeda.
“Dari pengamatan saya, ini bukan bongpai, ini prasasti,” kata Danang.

Ia menilai temuan tersebut sangat penting bagi sejarah Lasem, yang dikenal sebagai kawasan dengan jejak panjang komunitas Tionghoa di pesisir utara Jawa.
“Bagi saya sebagai orang yang senang sejarah, ini merupakan temuan luar biasa. Saya rasa ini temuan spektakuler bagi kesejarahan di Lasem maupun Kabupaten Rembang. Bisa jadi ini satu-satunya prasasti yang ditemukan saat ini, baik di Rembang, mungkin di Jawa Tengah, bahkan bisa jadi di Indonesia,” ujarnya.
Kepala Sub Koordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinbudpar Rembang, Retna Dyah Radityawati, mengatakan, untuk proses lebih lanjut seperti pembacaan aksara hingga pembersihan batu akan ditangani oleh tim ahli dari Balai Pelestari Kebudayaan (BPK), termasuk filolog aksara Cina.
“Untuk pembacaan ataupun pembersihan selanjutnya nanti biar dilakukan oleh tim ahli dari BPK atau pun ahli filolog aksara Cina,” imbuhnya.
Di balik sunyi Pegunungan Lasem, dua batu ini kini tak lagi sekadar benda tak bernama. Ia berpotensi menjadi penanda penting sejarah, membuka kembali kisah lama yang selama ini tersembunyi di antara pepohonan jati.
(daf/daf)







Comments are closed.