REMBANG – Tradisi khas Ramadan yang dinanti-nanti warga Kabupaten Rembang, lomba tong tong klek tradisional, dipastikan akan kembali memeriahkan suasana tahun 2026 ini. Pemerintah kabupaten setempat menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar hiburan, melainkan upaya menjaga warisan budaya daerah agar tidak tergerus modernisasi.
Wakil Bupati Rembang, Hanies Cholil Barro’, menyampaikan bahwa pola parade arak-arakan keliling seperti tahun sebelumnya tetap akan dipertahankan. Saat ini, koordinasi lintas pihak sedang dilakukan untuk mematangkan rute parade.
“Ini adalah warisan budaya yang harus terus kita jaga. Tradisi seperti tong tong klek menjadi identitas daerah yang tidak boleh hilang oleh arus modernisasi,” ujar Hanies pada Senin (23/2/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Rembang, Prapto Raharjo, menjelaskan bahwa persiapan telah dilakukan melalui rapat koordinasi. Belajar dari antusiasme luar biasa tahun lalu, tahun ini konsep acara akan dikemas lebih matang.
Jadwal dan Aturan Main
Bagi masyarakat yang ingin menyaksikan atau berpartisipasi, berikut adalah detail pelaksanaan Lomba Tong Tong Klek Rembang 2026:
Waktu Pelaksanaan: Selasa malam, 17 Maret 2026 (sekitar 3-4 hari menjelang Idul Fitri).
Titik Start: Perempatan Zaini (peserta mengantre ke arah barat).
Titik Finish: Gedung Haji.
Panggung Utama: Lokasi penilaian oleh juri sekaligus pusat kegiatan.
Pembatasan Peserta dan Kendaraan
Demi menjaga kualitas pertunjukan dan kelancaran arus lalu lintas, panitia memberlakukan sejumlah aturan ketat:
- Kuota Peserta: Dibatasi hanya untuk 25 kelompok.
- Jenis Kendaraan: Peserta hanya diperbolehkan menggunakan kendaraan jenis L300 atau sejenisnya.
- Larangan Kendaraan Berat: Kendaraan berukuran besar seperti truk tronton dilarang keras ikut serta dalam parade.
Pihak panitia juga telah menyiapkan berbagai penghargaan dan nominasi bagi kelompok terbaik sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan kekompakan para peserta.
“Kita ingin tong tong klek ini benar-benar menjadi kebanggaan Rembang. Tradisinya hidup, masyarakatnya guyub, dan generasi muda ikut melestarikan,” pungkas Prapto.
(daf/daf)





