NASIONAL – Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) terus memperkuat upaya membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan melalui pendekatan berbasis keluarga. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Gerakan Keluarga ASIK (Apik dan Resik) yang diselenggarakan bersama Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus.
Program ini dirancang untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga. Melalui edukasi, pelatihan, hingga apresiasi kepada keluarga yang konsisten menerapkan pengelolaan sampah, BLDF berharap lahir kebiasaan baru yang berdampak positif bagi lingkungan.
Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan keluarga merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi mendatang. Karena itu, upaya membangun kesadaran lingkungan dinilai akan lebih efektif jika dimulai dari lingkungan keluarga.
“Kami meyakini keluarga merupakan fondasi utama pembentukan karakter generasi mendatang. Kesuksesan perubahan perilaku di tingkat keluarga juga tidak lepas dari peran seorang ibu. Hal inilah yang menjadi penyemangat kami untuk menghadirkan berbagai inisiatif yang tidak hanya edukatif, tetapi juga mampu menghasilkan dampak nyata dan berkelanjutan,” kata Mutiara.
Gerakan Keluarga ASIK telah dimulai sejak Desember 2025 melalui sosialisasi daring kepada 150 kader PKK. Selanjutnya, pada Januari 2026, BLDF memfasilitasi empat kelas pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mendampingi masyarakat menerapkan pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Upaya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Tercatat lebih dari 56 karya partisipasi dari keluarga, RT, RW hingga kelurahan mengikuti program ini. Setelah melalui proses penilaian dan verifikasi lapangan pada 27–30 April 2026, sebanyak 16 peserta ditetapkan sebagai penerima apresiasi atas praktik pengelolaan sampah yang telah diterapkan di lingkungan masing-masing.
Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pengelolaan sampah di Kudus, BLDF juga meluncurkan peta digital berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memuat 525 titik penjemputan sampah. Inovasi tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam mengakses layanan pengumpulan sampah sekaligus mendukung kebiasaan memilah sampah dari rumah.
Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengapresiasi kontribusi BLDF dalam mendukung upaya pengelolaan sampah di daerah. Menurutnya, kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Melalui Gerakan Keluarga ASIK, BLDF berharap pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab individu atau pemerintah semata, tetapi menjadi gerakan bersama yang tumbuh dari keluarga dan mengakar dalam kehidupan masyarakat.
(daf/daf)






