REMBANG , Kondisi sulit tengah dialami nelayan di Kabupaten Rembang. Melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar membuat sebagian besar nelayan tak bisa melaut dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Asosiasi Nelayan Jaring Tarik Berkantong “Bhaita Adi Guna” Rembang, Lestari Priyanto, mengatakan bahwa nelayan di Rembang tidak akan menggelar aksi demonstrasi. Mereka memilih menempuh jalur audiensi dengan DPRD Rembang yang dijadwalkan pada 4 Mei mendatang.
“Untuk Rembang tidak demo, kami akan audiensi ke DPRD tanggal 4. Memang ada aksi di Juwana, tapi kalau Rembang memilih audiensi,” ujarnya Jumat (1/5).
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi nelayan saat ini adalah tingginya harga solar yang mencapai sekitar Rp28.000 per liter. Kondisi tersebut membuat biaya operasional melaut membengkak dan tidak sebanding dengan hasil tangkapan.
“Masalahnya di harga BBM, khususnya solar. Sekarang sudah sangat tinggi. Sudah sekitar dua minggu nelayan tidak bisa melaut,” jelasnya.
Ia menambahkan, nelayan yang sebelumnya sempat berangkat pun banyak yang akhirnya kembali karena tidak mampu menutup biaya bahan bakar. Sementara nelayan lainnya memilih tidak berangkat sejak awal.
Dalam audiensi nanti, para nelayan akan meminta dukungan DPRD agar pemerintah pusat dapat memberikan kebijakan harga khusus solar industri bagi nelayan. Hal ini dinilai penting agar aktivitas melaut bisa kembali berjalan dan ekonomi nelayan tetap bertahan.
“Harapan kami nelayan bisa mendapatkan solar dengan harga khusus. Barangnya sebenarnya ada, tapi harganya yang tidak terjangkau,” pungkasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi nelayan, sehingga mereka bisa kembali melaut tanpa terbebani tingginya harga BBM.






