REMBANG – Aktivitas nelayan di Pelabuhan Perikanan Tasikagung, Kabupaten Rembang, sempat lumpuh hampir sebulan terakhir akibat lonjakan harga solar industri. Ratusan kapal memilih tidak melaut dan hanya bersandar di pelabuhan.
Kondisi tersebut membuat suasana pelabuhan terlihat lengang. Kapal-kapal berjajar tanpa aktivitas, sementara para anak buah kapal (ABK) lebih banyak menghabiskan waktu untuk memperbaiki kapal dan alat tangkap. Aktivitas di tempat pelelangan ikan (TPI) pun menurun drastis, bahkan lelang hanya berlangsung singkat di pagi hari dan sudah berakhir sekitar pukul 11.00 WIB. Warung-warung di sekitar pelabuhan ikut terdampak dan banyak yang tutup.
Juru mudi kapal asal Desa Pasarbanggi, Suwartono, menjelaskan mayoritas kapal di Tasikagung berukuran di atas 30 Gross Ton (GT), sehingga tidak lagi berhak menggunakan solar subsidi.
“Sebagian besar kapal di sini di atas 30 GT, jadi harus pakai solar industri. Kalau di bawah 30 GT masih bisa pakai subsidi. Sekitar 600 kapal sempat mogok,” ujarnya.
Ia menyebut, sebelum harga solar naik, satu kali melaut bisa berlangsung hingga 26 hari dengan pendapatan bagi hasil berkisar Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. Namun sejak harga BBM melonjak, aktivitas melaut terhenti.
Harga solar industri yang semula sekitar Rp 10.500 per liter saat bulan puasa sempat melonjak hingga Rp 18.600. Kini harga mulai turun ke kisaran Rp 14.500 per liter, meski masih tergolong tinggi bagi nelayan.
“Kapal saya 62 GT, sekali melaut butuh sekitar 9 ribu liter solar untuk perjalanan ke Bawean dan Masalembu,” jelasnya.
Di sisi lain, terbatasnya pasokan ikan akibat banyak kapal tidak melaut justru mendorong kenaikan harga di pasaran. Ikan demang naik menjadi Rp 12 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 8-9 ribu. Ikan muniran juga melonjak dari Rp 4-6 ribu menjadi Rp 10 ribu per kilogram. Sementara cumi-cumi dijual antara Rp 40 ribu hingga Rp 90 ribu per kilogram tergantung ukuran.
Motoris kapal asal Desa Tritunggal, Mad Ikhsan, mengaku kondisi ini sangat berdampak pada penghasilannya.
“Biasanya bisa dapat Rp 3 juta sekali berangkat, tapi hampir sebulan ini tidak melaut. Sekarang cuma memperbaiki kapal,” katanya.
Sekretaris Paguyuban Nelayan Jaring Tarik Berkantong (JTB) Bhaita Adhiguna Rembang, Maksum, menyebut tidak semua nelayan berhenti. Sekitar 40 persen masih melaut, sementara 60 persen lainnya memilih menunggu situasi membaik.
Menurutnya, nelayan masih menunggu kebijakan pemerintah terkait penetapan harga solar khusus. Pihaknya juga telah melakukan audiensi dengan DPRD Rembang dan kini menanti koordinasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian ESDM.
Kabar baiknya, kondisi mulai berangsur pulih. Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang mencatat sebagian kapal kini mulai kembali melaut setelah adanya suplai BBM non subsidi dengan harga lebih rendah.
Sekretaris Dinlutkan Rembang, Nurida Andante, mengatakan nelayan kini mendapatkan pasokan dari PT Indah Raya Santosa dengan harga sekitar Rp 14.700 per liter.
“Sudah mulai ada kapal yang berangkat lagi karena suplai BBM non subsidi lebih terjangkau,” ujarnya.
Meski biaya operasional masih meningkat dibanding sebelumnya, Nurida menilai kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding saat harga solar sempat melonjak tinggi hingga di atas Rp 18 ribu per liter.
“Setidaknya sekarang sudah ada kepastian pasokan dan harga lebih stabil,” pungkasnya.
(daf/daf)






