Rembang , Ancaman longsor masih membayangi permukiman warga di Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pergerakan tanah yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan sejumlah rumah warga berada dalam kondisi rawan ambruk dan memicu kekhawatiran berkepanjangan, terutama saat intensitas hujan meningkat.
Kepala Dusun Gunungsari, Sumijan, mengatakan retakan tanah terus bertambah dan pergeseran lahan makin terasa oleh warga. Kondisi tersebut membuat sebagian warga tidak lagi merasa aman tinggal di rumah mereka sendiri.
“Setiap hujan deras, warga langsung waspada. Retakan tanah semakin jelas dan ada rumah yang sudah tidak berani ditempati penuh. Beberapa warga memilih tidur bergantian atau mengungsi sementara ke rumah saudara,” ujar Sumijan.
Situasi tersebut mendorong dilakukannya penyaluran bantuan darurat kepada warga terdampak. Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Rembang menyalurkan bantuan kemanusiaan sebagai respon cepat untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga.
Ketua PMI Kabupaten Rembang, dr. Samsul Anwar, menyampaikan bahwa bantuan difokuskan pada warga yang rumahnya mengalami kerusakan cukup parah akibat pergerakan tanah.
“Rumah warga berada di posisi yang sangat rentan. Fokus utama kami adalah keselamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar agar bisa sedikit meringankan beban warga terdampak,” kata dr. Samsul Anwar, Kamis (29/1).
Bantuan yang disalurkan meliputi perlengkapan mandi, peralatan masak, paket sembako, serta bantuan uang tunai. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu warga bertahan di tengah kondisi darurat yang masih berlangsung.
Menurut dr. Samsul Anwar, dampak bencana longsor tidak hanya berupa kerusakan fisik bangunan, tetapi juga tekanan psikologis yang dialami warga.
“Warga hidup dalam rasa khawatir setiap hari, terutama ketika hujan turun. Ini bukan hanya persoalan rumah rusak, tetapi juga rasa aman dan ketenangan hidup,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa potensi longsor susulan masih cukup besar mengingat curah hujan di wilayah tersebut relatif tinggi.
“Kami mengimbau warga agar tidak memaksakan diri tinggal di area berisiko tinggi. Keselamatan jiwa harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Sementara itu, Sumijan berharap adanya perhatian dan penanganan lanjutan dari pemerintah daerah maupun instansi terkait agar warga tidak terus hidup dalam ancaman bencana.
“Bantuan darurat sangat membantu, tetapi yang paling dibutuhkan warga adalah solusi jangka panjang, supaya ke depan kami tidak terus dihantui rasa takut setiap musim hujan,” pungkasnya.





